Selasa, 09 Agustus 2016

                     IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI
         
         
         


            Teknologi adalah sesuatu yang sangat penting pada jaman sekarang ini. Semua manusia dari segala kalangan maupun usia menggunakan teknologi. Komputer adalah alat wajib yang harus di kuasai, karena hampir semua perusahaan menggunakan komputer untuk menjalankan pekerjaan. Jika kita tidak dapat menguasai komputer maka kita akan sulit untuk bersaing dalam dunia pekerjaan yang pada era globalisasi ini. Tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan teknologi informasi sangatlah mudah sekarang ini.  
Artikel selengkapnya bisa anda download dengan cara klik disini

Senin, 08 Agustus 2016

ASAL USUL WATU DODOL BANYUWANGI


Pada  zaman dahulu menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat Asal Usul watu dodol, nama “Watu Dodol” berasal dari kata Watu (bahasa jawa) yang berarti batu, dan dodol yang berarti jenang. Cerita asal usul Watu Dodol ini bukan berasal dari masyarakat lokal, karena pelaku ceritanya adalah Kyai Semar, tokoh pewayang. Sedangkan warga Using (asli Banyuwangi ), tidak mengenal tradisi pewayangan tersebut. Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang jatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitara pantai watu dodol.


 Konon alat pukulnya, kayu kelor, terlempat dan menancap di sela-sela batu di sebelah kanan jalan (kalau dari arah barat). Hal ini juga aneh, karena di celah batu bisa tumbuh poon kelor. Bagi masyarakat Jawa, kelor merupakan senjata pamungkas untuk menghilangkan segala pengaruh mistik yang dimiliki seseorang. Seperti ilmu kanuragan atau ilmu hitam, diyakini akan luntur bila bersentuhan dengan kayu kelor. Sementara bagi warga Using, merupakan bahan sayur segar yang disajikan pada siang hari. Terutama pada hari ke-2 setelah Idul Fitrih. Bisa dipastikan, banyak orang Using yang memasak sayur daun kelor.
Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai Watu Dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Air tawar ini berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya bahwa air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan barbagai alasan yang dipercayainya sendiri.
Namun sejak saat itu banyaknya orang-orang sekitar watu dodol melakukan pengambilan batu karang, maka “kiclong-kiclong” watu dodol tidak seperti yang tergambarkan dalam lagi yang populer tahun 1970-an itu. Bahkan di pantai kampe, sebelah barat watu dodol, pantainya berlumpur. Batu karangnya habis di ambil warga, untuk bahan campuran batu kapur. Padahal, menurut warga setempat, gambaran “kinclong-kinclong” itu dulu bisa dinikmati sejak kawasan Wongsorejo hingga ke Pantai Blimbingsari.



Taman Nasional Alas Purwo
Adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan  Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo , Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.
 
Dari arah Pelabuhan Ketapang, Alas Purwo hanya berjarak sekitar 5 km, sedangkan dari kota Banyuwangi sendiri Anda harus menempuh jarak sekitar 14 km ke arah utara.
 Perjalanan menuju Alas Purwo bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi, entah itu dengan mobil atau sepeda motor. Sayangnya bagi Anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi, tidak ada kendaraan umum yang dapat diakses sampai Alas Purwo, oleh karena itu Anda disarankan untuk menyewa mobil pribadi.
Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas 43.420 hektar dengan ketinggian 322 meter di atas permukaan laut. Taman Nasional Alas Purwo yang sering disebut dengan TNAP merupakan hutan dengan usia tertua di Pulau Jawa.
Sebagai hutan hujan alami di Pulau Jawa, di sini terdapat 580 jenis flora dan 50 jenis fauna yang tersebar di seluruh penjuru hutan. Taman Nasional Alas Purwo terbagi menjadi empat zona, yaitu zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona penyangga. Beberapa jenis tanaman yang ada dapat Anda lihat di sini di antaranya adalah sawo kecik, bumbu manggong, ketapang, rumput, herba, semak, liana, kepuh, dan tumbuhan lainnya.
Beberapa fauna yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo antara lain banteng , rusa, ajag, babi hutan, kijang, macan tutul, lutung , kera abu-abu, dan biawak.

Savana Sadengan



Savana Sadengan merupakan objek wisata andalan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Di sini kita bisa melihat binatang-binatang liar di habitat aslinya. Di sekitar Sadengan juga sudah disediakan sebuah menara pandang berlantai tiga yang memungkinkan kita mengamati perilaku binatang-binatang liar dari atas. Ada juga sebuah penginapan yang terdapat di sekitar pos pengamatan tersebut yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin melakukan penelitian
Binatang-binatang liar yang bisa kita saksikan di Savana Sadengan antara lain rusa, banteng hingga babi hutan. Serta berbagai macam jenis burung. Jika ingin mendapatkan suasasana dan pemandangan yang maksimal, sangat disarankan datang ke tempat ini pada pagi hari antara jam 6 sampai jam 9 atau sore antara jam setengah empat sampai jam lima. Pada jam-jam tersebut para binatang biasanya akan berkumpul dan bermain
Pantai Triangulasi

Pantai Triangulasi hanya berjarak 3 km dari Pura Giri Seloka. Pantai ini terbilang masih alami dengan pantai berpasir putih dan hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Sunset di pantai ini sangat cantik, sehingga banyak wisatawan berkunjung kemari untuk berfoto. Anda tidak diperbolehkan berenang di pantai ini karena sangat berbahaya.

 Pantai Pancur


 

Pantai Pancur merupakan pantai berpasir putih lain yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Nama pantai ini diambil berdasarkan keberadaan sebuah sungai yang airnya mengalir ke pantai yang membentuk sebuah pancuran.
Suasana di pantai ini tidak jauh berbeda dengan pantai-pantai lain di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Suasananya natural dengan pasir putih dan air laut berwarna biru jernih. Di sekitar pantai terdapat sebuah area camping ground yang biasa digunakan untuk camping. Sekitar 2 km dari pantai terdapat goa yang cukup sakral yakni Goa Istana dan Sendang Srengenge

Pura Giri Seloka dan Situs Kawitan

Selain pemandangan flora dan fauna, ternyata di dalam TN Alas Purwo ini juga terdapat Situs Kawitan, yang merupakan situs peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Setiap tahunnya, situs ini digunakan untuk kegiatan keagamaan sejak tahun 1968. Situs Kawitan ini terkenal sangat keramat dan dipercaya bukan sembarang situs.
Menurut masyarakat di sana, di sekitar Situs Kawitan terdapat gapura-gapura gaib yang merupakan gapura Kerajaan Majapahit. Anda bisa melihat gapura gaib ini bila melakukan ritual Brata, yaitu melakukan meditasi selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum. Anda juga tidak boleh memiliki amarah terhadap siapa pun. Jika Anda berhasil melakukan ritual ini makan Anda bisa melihat gapura tersebut lengkap dengan prajurit yang berlalu lalang.
Karena banyaknya ritual yang sering dilakukan di Situs Kawitan, maka dibangunlah Pura Giri Selaka. Pura ini digunakan umat Hindu untuk melakukan acara keagamaan. Salah satunya upacara pager Wesi yang diadakan setiap 210 hari sekali.

 



 

FESTIVAL ABAK YATIM (FAY) BANYUWANGI
Seolah tak mau melewatkan kesempatan yang ada, usai dikirab dari Taman Blambangan menuju ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan, seribu anak yatim tersebut menyempatkan diri bersalaman dengan Bupati Abdullah Azwar Anas dan Ibu Dani Azwar Anas. Juga dengan Forum Pimpinan Daerah, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, dan Sekretaris Kabupaten Slamet Kariyono.
Puas bersalaman, anak-anak yang mendapat jatah beberapa kupon, beramai-ramai menukarkan kuponnya sesuai tulisan yang tertera. Ada yang ditukar dengan permainan, makanan, minuman, dan juga santunan. Dengan segera stand-stand makanan dan minuman dipenuhi oleh anak-anak yang berkisar dari usia TK hingga SMA tersebut. Sama halnya dengan  areal permainan yang disediakan. Tak satupun jenis permainan yang sepi pengunjung. Mulai dari balap mobil mini ber-remote control, photo box, bola gelinding dalam air, dan trampolin. Begitu pula  istana balon, mengambil boneka  dengan mesin penjepit, hingga permainan tradisional egrang dan klompen. Fasilitas lain yang juga diserbu pengunjung adalah mobil perpustakaan keliling dan mobil internet gratis yang sengaja disediakan untuk diakses sepuasnya.
Bupati Anas dalam sambutannya menyatakan kebahagiaannya bisa melihat kegembiraan anak-anak yatim tersebut. “Saya senang dengan kegiatan yang kita buat bersama untuk anak yatim ini. Semoga apa yang kita lakukan memberi harapan baru bagi mereka untuk survive di masa depan,”ujar Bupati Anas. Melalui moment itu, Bupati juga mengingatkan seluruh yang hadir agar lebih memperhatikan anak yatim. “Dengan doa merekalah Banyuwangi bisa semaju seperti saat ini,”tandas orang nomor satu di Banyuwangi itu. Tak hanya itu, untuk menstimulasi agar para anak yatim agar terus bergiat meningkatkan prestasi, tahun 2014 mendatang, Bupati Anas juga akan memberikan beasiswa bagi anak yatim berprestasi. Jika sebelumnya anak miskin berprestasi didukung dengan beasiswa dan dana Siswa Asuh Sebaya (SAS), tak lama lagi anak yatim berprestasi juga bisa terus melanjutkan pendidikannya, bahkan hingga ke jenjang S2. Kegiatan ini juga diwarnai penyerahan santunan kepada masing-masing anak yatim. Selain menerima santunan dari Pemkab Banyuwangi, mereka juga memperoleh santunan dari donatur.
Sebelumnya, pada pagi harinya di tempat yang sama juga diselenggarakan khitanan massal. Khitanan massal yang juga merupakan rangkaian dari FAY tersebut diikuti oleh 58 anak yatim dan anak dari keluarga yang kurang mampu. Berbagai ekspresi muncul dari wajah-wajah mungil peserta khitan. Ada yang menangis ketakutan sebelum dikhitan, ada yang baru menangis di bed khitan, dan tak sedikit pula yang terlihat berani  menjalani proses pengkhitanan. Mohammad Rizky Ramadhan, salah satunya. Pelajar kelas 2 SD dari Kecamatan Glagah ini, menurut orang tuanya,  sudah sejak lama minta dikhitan. Di wajahnya tak tersirat rasa takut atau tegang. Seusai khitan, ketika ditanya sakit atau tidak, dengan santai pula Rizky menjawab,”Nggak,”katanya. Dalam kesempatan itu, masing-masing peserta khitan juga mendapatkan santunan dari pemkab sebesar Rp. 300 ribu dan bingkisan berupa sarung. (Humas & Protokol)
KEBUDAYAAN TARI  SENI GANDRUNG BANYUWANGI


Gandrung adalah nama dari Seni Tari yang berasal dari Daerah Banyuwangi, Jawa Timur. salah satu Seni Pertunjukan Tradisional yang sejak Desember 2000 telah menjadi ikon dan maskot Pariwisata Kota Banyuwangi. Oleh karena tarian ini pulalah, Banyuwangi juga di juluki sebagai Kota Gandrung. istilah Gandrung berarti terpikat, merujuk pada sejarahnya, Tarian ini adalah bentuk terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Tari Gandrung atau biasa disebut dengan Tarian Gandrung Banyuwangi adalah bentuk ungkapan rasa syukur yang digelar oleh Masyarakat di setiap habis panen, dengan iringan Musik Gamelan para penari Gandrung (Wanita) menari bersama/ berpasangan dengan Pemaju yakni para tamu laki-laki, Pemaju dikenal juga dengan “Paju”. Dalam perkembangannya, Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh.

Gandrung memang telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Gandrung tidak terpinggirkan didaerahnya, nasibnya tidak seperti berbagai kesenian daerah lain yang mati suri. meskipun demikian Pemkab Banyuwangi tidak terlena. Pemkab Banyuwangi menyadari untuk menumbuhan kecintaan dan melestarikan budaya tidak bisa dilakukan secara instan dan terpisah dengan pembangunan daerah. Salah satunya melalui pembangunan pariwisata. Dari sini muncul ide menampilkan Gandrung secara massal. Maka lahirlah Gandrung Sewu.
Gandrung Sewu adalah ide spektakuler. Selain dirancang untuk mempromosikan Banyuwangi, Gandrung Sewu juga digunakan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap seni dan budaya daerahnya.


TATA BUSANA TARI GANDRUNG
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
1. Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
2. Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.


Tata Busana dan Penari 
a.  Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
b.  Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini. 
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
c.    Bagian Bawah
Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
d.   Lain-lain
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

  Musik Pengiring
          Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua
12
buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjakatau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.
Saron atau yang biasanya disebut juga ricik ,adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan.Dalam satu set gamelan biasanya mempunyai 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan slendro. Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu.
        Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan.
Dalam memainkan saron, tangan kanan memukul wilahan / le-mbaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa da-ri pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata da-sar: pathet = pencet)
Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil
Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini.
Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.
Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh.
Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.
Kendangkendhang, atau gendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.
Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang dengan orang lain maka akan berbeda nuansanya.
Dengan peralatan musik atau gamelan seperti yang terbuat di atas, maka dihasilkan beberapa gending gandrung. Perbendaharaan gending-gending gandrung merupakan gending-gending klasik yang sulit diketemukan penciptanya. Gending-gending itu dapat dipilih menjadi 7 bagian yang jumlahnya cukup banyak.Yakni,
·         Gending-gending klasik prasemi,
·         gending-gending klasik dijaman semi,
·         gending-gending seblang,
·         gending-gending sanyang,
·         gending-gending bali,
·         gending-gending jawa
·         gending-gending harah.(Yang terdiri dari Gending Padha Nonton,Gending Sekar Jenang Ayun-Ayun, Maenang, Ladrang, Celeng Mogok,Ugo-Ugo, Lia-Liu, Lebak-Lebak, Lindoondo Krenoan, Gagak Serta, Limar-Limir, Gandraiya, Emek-Emek, Duduk Maling, Kembang Jambe, Kelam Okan, Jaran Dawuk, Sawunggaling, Gerang Kalong, Guritan, Erang-Arang, Blabakan, Embat-Embat, Keyok-Keyok, Kosir-Kosir, Tarik Jangkar, Krimping Sawi, Condrodewi, Opak Apem.
Sebagian gending yang terdapat berasal dari Sangyang dan Bali, seperti Gebyar-gebyur, Gulung-gulung Agung, sekar potel, Sandel sate, Surung dayung, dan Pecari putih. Sedang yang berpengaruh jawa cukup banyak, antara lain Sampak, Puspawarna, Pacung, kinanti, Angleng, Sinom, Ladrang Manis, Wida Sari, Sukmailing, Titipati, Damarkeli, ing-ing, Semarang dan masih banyak lagi.


 Syair Lagu Tari Gandrung
Padha nonton
Pundhak sempal ring lelurung
Ya pedhite, pundhak sempal
Lambeyane para putra
Para putra
Kejala ring kedhung liwung
Ya jalane jala sutra
Tampange tampang kencana
Kembang Menur
Melik-melik ring bebentur 
Sun siram-siram alum
Sunpethik mencirat ati
Lare angon
Gumuk iku paculana
Tandurana kacang lanjaran
\Sak unting kanggo perawan
Kembang gadhung
Sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang
Kang nawa wong adol kembang
Sumbarisena ring Tenmenggungan
Sumiring payung agung
Lambayano membat mayun
Kembang abang
Selebrang tiba ring kasur
Mbah Teji balenana
Sunenteni ring paseban
Ring paseban
Dhung Ki Demang mangan nginum
Selerengan wong ngunus keris
Gendam gendhis kurang abyur


Gending Padha Nonton sebenarnya puisi yang menggambarkan perjuangan untuk membangkitkan semangat rakyat Blambangan me-lawan segala bentuk penjajahan. Meskipun demikian, keindahan sya-irnya juga mampu menciptakan ritme vokal untuk mengiringi tari penghormatan sebagai ucapan selamat datang bagi para tamu, seperti halnya tarian gambyong pada awal pertunjukan tayub atau Kidung Sa-lamat pada pertunjukan jaipong. Pesan perjuangan penuh makna sim-bolis ini dituangkan melalui kata-kata sandi. Makna pesan inilah yang kemudian menjadi dasar perwatakan masyarakat Using dalam men-ciptakan identitasnya.
          Dalam pelaksanaan Seblang-seblang atau seblang subuh, biasanya didapati penambahan property yang cukup unik. Sebuah lidi kecil yang digunakan semacam menyapu lantai atau pentas bekas tempat menari dengan maksud membersihkan segala godaan hidup. Membawakan gending dengan maksud yang tersirat menyapu bersih sampah masyarakat penjajah Belanda.
Dalam syair suatu gending antara lain:
….. Jaran dawu ya nyiriga
Nyiriga ring alun-alun wis
Wayahe ana widodari toke.
Candra dwi mandosia
Maro mundur mekar sore
Kembang petetan
Sadu paman wis aja kelendi         
Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan.    
Terjemahan bebasnya sebagai berikut :
Kudakelabu brgeraklah
Bergerak di lapangan
Sudah saatnya seorang bidadari hadir
Wajah wanita cemerlang
Maju
 mundur berkembang sore hari seperti bunga hiasan
Ya paman lalu bagaimana
Keranjang gula sudah saatnya peradaban …..


Demikian uraian singkat pelaksanaan acara seblang-seblang atau seblang subuh pada penampilan akhir penampilan kesenian gandrung Banyuwangi.