KEBUDAYAAN TARI SENI GANDRUNG BANYUWANGI
Gandrung adalah
nama dari Seni Tari yang berasal dari
Daerah Banyuwangi, Jawa Timur. salah satu Seni Pertunjukan Tradisional yang
sejak Desember 2000 telah menjadi ikon dan maskot Pariwisata Kota Banyuwangi.
Oleh karena tarian ini pulalah, Banyuwangi juga di juluki sebagai Kota
Gandrung. istilah Gandrung berarti terpikat, merujuk pada sejarahnya, Tarian
ini adalah bentuk terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi
Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Tari Gandrung atau biasa
disebut dengan Tarian
Gandrung Banyuwangi adalah bentuk ungkapan rasa syukur
yang digelar oleh Masyarakat di setiap habis panen, dengan iringan Musik Gamelan para penari Gandrung (Wanita)
menari bersama/ berpasangan dengan Pemaju yakni para tamu laki-laki, Pemaju
dikenal juga dengan “Paju”. Dalam perkembangannya, Gandrung sering dipentaskan pada berbagai
acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara
resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya.
Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan
berakhir hingga menjelang subuh.
Gandrung memang telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Gandrung tidak terpinggirkan didaerahnya, nasibnya tidak seperti berbagai kesenian daerah lain yang mati suri. meskipun demikian Pemkab Banyuwangi tidak terlena. Pemkab Banyuwangi menyadari untuk menumbuhan kecintaan dan melestarikan budaya tidak bisa dilakukan secara instan dan terpisah dengan pembangunan daerah. Salah satunya melalui pembangunan pariwisata. Dari sini muncul ide menampilkan Gandrung secara massal. Maka lahirlah Gandrung Sewu.
Gandrung Sewu adalah ide spektakuler. Selain dirancang untuk mempromosikan Banyuwangi, Gandrung Sewu juga digunakan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap seni dan budaya daerahnya.
TATA BUSANA TARI GANDRUNG
Tata busana penari Gandrung
Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali
(Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
1. Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan
serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak
dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena,
putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi
seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak
melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak
setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada
omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi
membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga
yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang
hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
2. Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh
terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan
ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol
yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung
dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup
tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias
masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan
ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai
pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
Tata Busana dan Penari
a. Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang
terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta
manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga
dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher
tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias
bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat
bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan
kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
b. Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota
yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang
disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh
Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta
menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau
ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan
setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen
ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang
ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna
perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada
tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya.
Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan
magis.
c. Bagian Bawah
Penari gandrung
menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang
paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah
oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih
yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak
memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu
memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
d. Lain-lain
Pada masa lampau, penari
gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini
penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian
tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Musik Pengiring
Musik pengiring
untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah
kluncing (triangle), satu atau dua
12
buah biola, dua
buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap
jika tidak diiringi panjakatau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi
semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap
pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain
kluncing. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung,
atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.
Saron atau yang
biasanya disebut juga ricik ,adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk
keluarga balungan.Dalam satu set gamelan biasanya mempunyai 4 saron, dan
semuanya memiliki versi pelog dan slendro. Saron menghasilkan nada satu oktaf
lebih tinggi daripada demung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron
biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu.
Cara menabuhnya
ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara
saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung
pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang
menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan
cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun
keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan.
Dalam memainkan saron, tangan kanan
memukul wilahan / le-mbaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet
wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa
da-ri pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata
da-sar: pathet = pencet)
Angklung adalah alat
musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam
masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat
dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan
badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada
2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil
Gong merupakan
sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini
digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong
seperti ini.
Gong yang telah
ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah
dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok
sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut
juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam
berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan
dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari
menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari
(telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume
suara denting yang dihasilkan.
Rebana adalah
gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang
dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian
di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah
musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh.
Bagi masyarakat
Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di
kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu
tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk.
Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi
nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi
dan irama.
Kendang, kendhang,
atau gendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang
salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan
tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang
menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama
kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu
atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih,
dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu
jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang
yang khas yaitu kendhang kosek.
Kendang kebanyakan
dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami
budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga
bila dimainkan oleh satu orang dengan orang lain
maka akan berbeda nuansanya.
Dengan peralatan
musik atau gamelan seperti yang terbuat di atas, maka dihasilkan beberapa
gending gandrung. Perbendaharaan gending-gending gandrung merupakan
gending-gending klasik yang sulit diketemukan penciptanya. Gending-gending
itu dapat dipilih menjadi 7 bagian yang jumlahnya cukup banyak.Yakni,
· Gending-gending
klasik prasemi,
· gending-gending
klasik dijaman semi,
· gending-gending
seblang,
· gending-gending
sanyang,
· gending-gending
bali,
· gending-gending
jawa
· gending-gending
harah.(Yang terdiri dari Gending Padha Nonton,Gending Sekar Jenang Ayun-Ayun,
Maenang, Ladrang, Celeng Mogok,Ugo-Ugo, Lia-Liu, Lebak-Lebak, Lindoondo
Krenoan, Gagak Serta, Limar-Limir, Gandraiya, Emek-Emek, Duduk Maling, Kembang
Jambe, Kelam Okan, Jaran Dawuk, Sawunggaling, Gerang Kalong, Guritan,
Erang-Arang, Blabakan, Embat-Embat, Keyok-Keyok, Kosir-Kosir, Tarik
Jangkar, Krimping Sawi, Condrodewi, Opak Apem.
Sebagian gending yang terdapat
berasal dari Sangyang dan Bali, seperti Gebyar-gebyur, Gulung-gulung Agung,
sekar potel, Sandel sate, Surung dayung, dan Pecari putih. Sedang yang
berpengaruh jawa cukup banyak, antara lain Sampak, Puspawarna, Pacung, kinanti,
Angleng, Sinom, Ladrang Manis, Wida Sari, Sukmailing, Titipati, Damarkeli,
ing-ing, Semarang dan masih banyak lagi.
Syair Lagu Tari Gandrung
Padha nonton
Pundhak sempal
ring lelurung
Ya pedhite,
pundhak sempal
Lambeyane para
putra
Para putra
Kejala ring
kedhung liwung
Ya jalane jala
sutra
Tampange tampang
kencana
Kembang Menur
Melik-melik ring
bebentur
Sun siram-siram alum
Sunpethik mencirat
ati
Lare angon
Gumuk iku paculana
Tandurana kacang
lanjaran
\Sak unting kanggo
perawan
Kembang gadhung
Sak gulung ditawa
sewu
Nora murah nora
larang
Kang nawa wong adol
kembang
Sumbarisena ring
Tenmenggungan
Sumiring payung
agung
Lambayano membat
mayun
Kembang abang
Selebrang tiba
ring kasur
Mbah Teji balenana
Sunenteni ring
paseban
Ring paseban
Dhung Ki Demang
mangan nginum
Selerengan wong
ngunus keris
Gendam gendhis kurang
abyur
Gending Padha Nonton
sebenarnya puisi yang menggambarkan perjuangan untuk membangkitkan semangat
rakyat Blambangan me-lawan segala bentuk
penjajahan. Meskipun demikian, keindahan sya-irnya juga mampu
menciptakan ritme vokal untuk mengiringi tari penghormatan sebagai ucapan
selamat datang bagi para tamu, seperti halnya tarian gambyong pada awal
pertunjukan tayub atau Kidung Sa-lamat pada
pertunjukan jaipong. Pesan perjuangan penuh makna sim-bolis ini dituangkan
melalui kata-kata sandi. Makna pesan inilah yang kemudian menjadi dasar
perwatakan masyarakat Using dalam men-ciptakan
identitasnya.
Dalam pelaksanaan
Seblang-seblang atau seblang subuh, biasanya didapati penambahan property yang
cukup unik. Sebuah lidi kecil yang digunakan semacam menyapu lantai atau pentas
bekas tempat menari dengan maksud membersihkan segala godaan hidup. Membawakan
gending dengan maksud yang tersirat menyapu bersih sampah masyarakat penjajah
Belanda.
Dalam syair suatu
gending antara lain:
….. Jaran dawu ya
nyiriga
Nyiriga ring alun-alun wis
Wayahe ana widodari toke.
Candra dwi mandosia
Maro mundur mekar sore
Kembang petetan
Sadu paman wis aja
kelendi
Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan.
Terjemahan bebasnya sebagai berikut :
Kudakelabu brgeraklah
Bergerak di lapangan
Sudah saatnya seorang bidadari hadir
Wajah wanita cemerlang
Maju mundur berkembang sore hari seperti bunga hiasan
Ya paman lalu bagaimana
Keranjang gula sudah saatnya peradaban …..
Demikian uraian
singkat pelaksanaan acara seblang-seblang atau seblang subuh pada penampilan
akhir penampilan kesenian gandrung Banyuwangi.